Selasa, 28 April 2009

Kiswanti, Kartini Masa Kini

Gemuruh tepuk tangan terdengar membahana saat Pendiri Taman Bacaan Warung Baca Lebak Wangi (Warabal), menaiki panggung untuk menerima penghargaan yang diberikan langsung oleh Ibu Ani Yudhoyono. Wanita setengah baya bernama Kiswanti ini merupakan salah satu nominator dari 100 Wanita Terinspiratif 2009, untuk kategori Sosial.

Penghargaan malam itu, bagi perempuan asal Bantul Yogyakarta ini, merupakan hasil perjuangan dan kreativitasnya selama bertahun-tahun. "Sesungguhnya penghargaan ini bukan untuk saya, tapi untuk masyarakat di mana saya tinggal yang hingga kini masih mau saya layani," tukas kelahiran Desa Ngidikan, Bantul, 4 Desember 1963.

Di tempatnya tinggal, yaitu di Parung, Bogor, Jawa Barat, perjuangan Kiswanti mampu mengubah 180 derajat masyarakatnya yang dulu buta huruf, kini menjadi masyarakat yang gemar membaca. Berkat keikhlasan Kiswanti pun, kini mereka memiliki sebuah taman bacaan walau sederhana.

Naik Onthel Meminjamkan Buku

Meski berprofesi sebagai ibu rumah tangga, namun kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar patut diacungi jempol. Tahun 1997, Kiswanti mulai mencoba mengenalkan buku dan mengajarkan membaca pada anak-anak di sekitar rumahnya di Kampung Lebak Wangi.

Upayanya ini tak serta merta diterima, bahkan beberapa warga sempat menganggap kegiatan yang diberikan Kiswanti hanyalah sia-sia dan membuang waktu. Dalam pandangan mereka, membaca merupakan budaya 'orang kaya', bukan masyarakat miskin seperti mereka.

"Bukan hanya itu, yang lebih mengkhawatirkan sejumlah anak bahkan bisa menggunakan bahasa tak senonoh saat berselisih paham," jelas Kiswanti, saat diwawancarai halohalo. Untuk itulah, ia makin bertekad membuka taman bacaan dan mengajarkan anak-anak yang tak sekolah dengan cerita-cerita yang mendidik.

Sebelum membuka taman bacaan, Kiswanti meminjamkan buku-buku bacaan ke lingkungannya dengan menggunakan sepeda onthel. Sepeda seharga 300 ribu tersebut ia beli dari uang tabungannya hasil berjualan jamu.

Dengan sepeda tersebut, ia keliling kampung di sekitar Parung, meminjamkan buku-buku bacaan secara gratis untuk siapa saja yang berminat. Ia berharap, dengan cara tersebut warga kampung akan tumbuh minatnya untuk membaca. "Mereka harus tahu kalau dengan membaca buku, kita akan mendapatkan hal dan pengetahuan baru."

Menunggak SPP, Tak Naik Kelas

Sebagai pecinta buku, Kiswanti cukup banyak mendapatkan pengetahuan. Inilah yang ingin ia bagikan pada warga di lingkungannya. Dengan semangat ini pula, ia memperbanyak koleksi bukunya dan mulai membangun sebuah taman bacaan. Diharapkan dengan taman bacaan ini, anak-anak akan lebih banyak mendapatkan pengetahuan.

"Dari kecil saya senang membaca buku apa saja," akunya, tak heran bila ia juga berharap anak-anak lain ikut merasakan dan memiliki kecintaan serta pengetahuan dari membaca. Ibunda Kiswanti, almarhumah Tumirah adalah sosok terpenting dalam hidupnya, meski berasal dari keluarga tak mampu namun sang ibu selalu mendukung kegemarannya dengan membelikan buku-buku murah yang mampu 'menenggelamkan' putrinya.

Ayahnya, Trisno Suwarno adalah seorang petani gurem di Bantul. Akibat tak ada biaya, ia sempat dilarang naik kelas oleh gurunya akibat menunggak SPP selama lima bulan. "Saat itu saya menangis, saya juga bertanya-tanya karena sering ikut berbagai lomba (seperti deklamasi dan membaca-red), tapi kenal tidak membayar SPP selama lima bukan saja tidak boleh naik kelas?" tanyanya dengan suara berapi-api.

Kejadian yang sama berulang saat ia duduk dibangku SLTA, saat itu Kiswanti baru kelas dua dan harus berhenti akibat tak ada biaya. Tak heran bila ijasah yang ia punya hanyalah ijasah dari Madrasah Tsanawiyah Negeri di kampungnya, karena Kiswanti pun tak menyelesaikan Kejar Paket C yang diambilnya.

Geram dengan dunia pendidikan yang menghadangnya, Kiswanti pun memilih untuk mengandalkan buku sebagai gudang ilmu paling berharga. Pengalaman pahitnya ini pula yang membuatnya makin mantap untuk memperkenalkan pentingnya membaca pada para warga di lingkungannya.

Jadi PRT Dengan Bayaran Buku

Mendirikan taman bacaan meski sederhana, tetap membutuhkan modal yang cukup. Dengan berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga asal Philipina di tahun 1989, Kiswanti pun pelan-pelan membangun taman bacaannya.

"Saya bekerja tidak minta dibayar dengan uang, tapi dengan buku. Ya kalau sekarang, mungkin saya dibayar sekitar Rp. 40.000," jelasnya.

Ia pun menyisihkan uang belanjanya sebesar tiga ribu rupiah, dari total keuntungan warung kelontong miliknya yang beromset Rp. 7000 per hari.

Bukan itu saja, Kiswanti pun menyisihkan uang dari hasil tulisan ceramah di pengajian kelompoknya. Tulisan itu ia fotokopi lalu dijual seharga Rp. 5000.

"Setahun kemudian saya bisa membeli sepeda," katanya, bangga. Dengan modal itulah, lambat laun koleksi buku taman bacaannya mulai bertambah. Bila awalnya hanya berjumlah puluhan, kini bisa mencapai ratusan buku.

Kini, selain membuat taman bacaan gratis, Kiswanti pun mulai membuat berbagai kursus ketrampilan. Misalnya kursus komputer, mengaji, menjahit maupun menyulam bagi para orangtua. Ini merupakan salah satu strategi Kiswanti agar taman bacaannya tetap dikunjungi.

Setelah sepuluh tahun berkiprah, usia dan kesehatan Kiswanti diakui tak sekuat dulu. Perempuan berusia 45 tahun ini terpaksa mengurangi aktivitasnya yang segudang, akibat penyakit liver yang selama tiga tahun ini telah menyerangnya.

Namun usaha Kiswanti tak sia-sia, setidaknya kini masyarakat sekitar Parung mulai terbentuk budaya membaca. Masyarakat yang dulu dibutakan oleh kebodohan, kini lambat laun bangkit berkat buku pinjaman yang diberikan Kiswanti.

Baca Selengkapnya......

Senin, 20 April 2009

Kebebasan dalam Emansipasi

     Kebebasan dari emansipasi adalah kebebasan dari perbudakan, persamaaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, misal : persamaan hak, seperti kaum wanita dengan kaum pria. Di zaman modern seperti sekarang ini banyak kaum wanita menganggap bahwa emansipasi menunjukkan tidak ada lagi diferensiasi antara kaum wanita dengan kaum pria dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. 
       Masalah inilah yang timbul dan saat ini menjadi kendala besar untuk meningkatkan martabat kaum wanita, padahal menurut ilmu histories, pelopor emansipasi kaum wanita R.A Kartini menguraikan bahwa emansipasi bertujuan untuk membebaskan kaum wanita dari perbudakan dan keterbelakangan, misal pada waktu dijajah pada pada waktu dijajah oleh bangsa Belanda kaum wanita tidak diperbolehkan untuk sekolah seperti kaum pria, kaum wanita pada waktu itu hanya dijadikan budak penjajah dan mengurusi semua keperluan dapur. Maka dari itu emansipasi dijadikan sebagai tonggak baru untuk mengangkat dan memajukan derajat kaum wanita dan untuk bias mewujudkannya beliau mendirikan sebuah sekolah yang khusus untuk kaum wanita.
         Semenjak terdapat sekolah untuk kaum wanita yang didirikan R.A Kartini, banyak putrid bangsa ini yang mampu meningkatkan martabat kaum wanita dengan kepandaian dan keuletannyadalam berbagai bidang. Terbukti di zaman modern sekarang ini yang sudah merdeka, banyak anak- anak sekolah yang berprestrasi bahkan sebagian besar prestasi banyak diraih oleh kaum wanita.
      Tetapi dengan adanya prestasi-prestasi itulah kaum wanita sekarang merasa bias menandingi kemampuan dan berbagai kegiatan yang dimiliki kaum pria, misalkan saja dalam hal pacaran seorang wanita tidak malu untuk menyatakan perasaannya kepada kaum pria dan juga dalam hal kegiatan olahraga, seni, dll. Biasanya jika terdapat kejadian seperti orang-orang akan mengatakan bahwa ini adalah zamannya emansipasi, jadi harus menyamakan dengan kaum pria. Tetapi itu merupakan sebuah kesalahan, kita pasti sudah tahu bahwa kodrat kaum wanita pasti dibawahnya kaum pria dan bila kaum wanita di atas kaum pria itu tidak akan terjadi bahkan itu bisa menjatuhkan kehormatan dan martabat kaum wanita itu sendiri di mata masyarakat.
       Kesalahan kaum wanita yang lain adalah merokok, minum-minuman keras, pecandu narkoba, pergaulan bebas, dan masih banyak lagi, bukankah itu semua dilarang oleh agama islam baik kaum pria dan kaum wanita. Masalah lainnya yaitu bolos sekolah untuk anak-anak yang masih sekolah dan pecandu narkoba untuk orang yang suka memakai, kalau kedua hal itu sudah jelas ada dalam UUD dan pasti orang yang melakukannya akan mendapatkan hukuman. Jadi disini jika sampai ketahuan terdapat kaum wanita yang melakukannya, dimana rasa malu mereka ? dan dimana rasa kasihan mereka terhadap kaum wanita lainnya ? yang tidak tahu apa-apa tetapi malah menerima dampak buruknya.
        Dengan adanya masalah-masalah yang terjadi di atas, sudah dapat disimpulkan bahwa emansipasi, awalnya memang sebuah kemajuan tetapi di akhir berbanding terbalik, yaitu kemunduran yang didapatkan mungkin itu semua didasari karena masalah intern, misal : terlalu dibebaskan pergaulan kita oleh orang tuanya, tidak diperhatikan keluarganya atau ditinggal bekerja orang tuanya, jadi emansipasi disini termasuk kebebasan yang kebablasan. 
        Jadi sebaiknya para orang tua harus hati-hati menjaga anak-anaknya, khususnya anak perempuan khususnya dalam bidang pergaulan. Apalagi anak-anak remaja perempuan sekarang mudah sekali untuk dirayu, dibujuk dan dipengaruhi, jadi jangan sampai orang tua membebaskan anak-anak perempuanya dalam pergaulan karena akan cepat merubah perkembangannya dan itu adalah perkembangan yang negative. Dan bagi perempuan-perempuan dewasa yang dianggap sudah bisa mengatur diri sendiri harus tetap diawasi dalam pergaulan, misal : hal pacaran, orang tua harus tetap membatasinya, karena jika terlalu dibebaskan mungkin hanya akan mengakibatkan penyesalan bagi semua oran terutama orang tua.

By. Risa

Baca Selengkapnya......

Kamis, 02 April 2009

Sepercik Bara Api Wanita

Hati wanita zaman dahulu sangat senang jika dipanggil dengan kata perempuan. Perempuan dari kata ”empu” yang berarti ahlinya/orang yang pintar/mahir. Akan tetapi jika benar perempuan merupakan sesosok yang akhi dan mahir sudah seharusnya juga bahwa perempuan juga diakui keberadaanya, dinanti kehadirannya, dan disanjung namanya.
Sungguh ironis memang nasib wanita zaman dahulu, hanya sebatas ”kasur, sumur, dan dapur”. Semua itu akibat jeratan/kungkungan dan cekikan adat. Sudah lengkap penderitaan wanita Indonesia pada zaman dahulu, dimana adat mengalahkan segalanya, adat bahwa wanita tidak bisa duduk dibangku sekolah, harus dipingit, dinikahi dengan laki-laki tak dikenal, dan harus sedia dimadu.
Gambaran maut itu telah membuka hati seorang wanita putri dan Bupati Jepara, yaitu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat untuk membebaskan wanita dari jeratan adat. Wanita itu bernama R.A Kartin, ia yang ingin menjadi dokterpun hanya diizinkan sekolah hingga usia 12 tahun karena harus dipingit.
Dibalik jeruji pingitan, R.A Kartini masih bisa membaca buku-buku terbitan Belanda yang memperluas pengetahuannya. Ia membuka sekolah bagi para gadis Jepara. Meskipun sekolah itu berjalan dengan lancar, kembali adat yang merenggutnya. Ia dilamar oleh Raden Adipati Joyo Ningrat dari Bupati Rembang.
Namun usia pernikahan merekapun hanya sebatas umur jagung, saat usia R.A Kartini 25 tahun, Ia harus kembali kesisi-Nya setelah melahirkan Singgih, putra pertamanya. Kendati demikian, karya-karyanya tidak lekas luntur begitu saja. Pemikirannya dapat digali dalam bukunya yang berjudul ”Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dalam buku itu terdapat sebuah surat Kartini yang ternyata kepada Nn Zeehandeelar (6 Nov 1899) ”Engkau bertanya, apakah asal mulanya aku terkurung dalam empat tembok tebal. Sangkamu tentu aku tinggal didalam terungku atau serupa iti. Buan, Stella, penjaraku rumah besar, berhlaman luas sekelilingnya, tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana luasnya rumah dan pekarangan kami itu, bila senantiasa harus tinggal diisana sesak juga rasanya”.
Mendengar kata-kata itu serasa hati teriris-iris. Bukan dari anak seorang bangsawan yang kita lihat tapi pemikirannyalah yang harus kita renungkan. Dari R.A Karini emansipasi wanita muncul kepermukaan, dan sampai sekarang masih didengungkan oleh kaum wanita dalam memperjuangkan hak kesetaraan dengan kaum pria. Hal untuk mendapatkan pendidikan dan hak untuk mencintai dan dicintai.
Emansipasi wanita, telah membawa kemajuan bagi kaum wanita itu sendiri. Diantaranya untuk duduk di legislatif dengan mengacu pada pasal 65 ayat 1 UU Nomer 12 Tahun 18 Februari 2003. Tidak hany itu, wanita kini telah dihargai dan dihormati serta tidak dipandang sebelah mata lagi. Yang lebih menabjubkan lagi bahwa Indonesia Pernah dipimpin oleh seorang wanita.
Dewasa ini, emansipasi wanita yang merupakan kebebasan lebih mengacu kepada kebablasan. Kebebasan berekspresi dan berpenampilanpun kian marak dimasyarakat. Degradasi moralitas wanitapun juga terbuka lebar didepan mata. Sementara itu terjadi karena kesalahan dalam memahami konsep emansipasi.
Sebagai contoh yang belum lama ini menimpa jagad hiburan pertelevisian Indonesia yang menayangkan seorang penyanyi dangdut yang terlalu bebas berekspresi, bergoyang, dan berpakaian tidak semestinya. Hingga berkaitanm dengan pornografi dan pornoaksi. Walaupun masuh RUU APP, sempat juga menjadi sangat menegangkan dan menjadi perdebatan rebut antara yang pro dengan alasan bahwa pornografi dan pornoaksi dapat merusak moral keturunan generasi muda dan yang kontra dengan alasan bahwa semua itu merupakan kebebasan berekspresi dan nilai seni.
Jika kita mau menelaah lebih dalam, sebenarnya RUU APP itu digunakan untuk melindungi kohormatan wanita yang merupakan objek penjualan, periklanan, dan perfileman. Akan tetapi jika RUU APP itu disahkan, apakah sejarah akan terulang kembali? Perempuan akan kembali hidup dalam belenggu peraturan bari itu. Sebenarnya, apabila wanita berjalan pada jalurnya tidak mungkin RUU itu dibuat. Tidak ada pula kontroversi berkecamuk dimana-mana.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Terdiri dari berbagai suku bangsa, adat dan kepercayaan masing-masing. Setiap daerahpun telah mempunyai pakaian adatnya sendiri-sendiri. Kebaya untu wanita Jawa pada umumnya lalu dan pakaian kurung ciri khas wanita Sumatra Barat ”Mingang Kabau”, orang Jepang saja yang merupakan negara maju tidak malu menggunakan pakaian kimono dan sudah seharusnya kita juga menghargai pakaian adat kita sendiri.
Wanita tetaplah wanita. Dalam kodratnya bahwa wanita tidak bisa bisa disamakan dengan kaum pria karena memang sudah hukum alam. Tetapi ”Biarpun Kuncupnya Mekar Menjadi Bunga”. Ungkapan dari Anis Matta yang artinya, berilah kesempatan sama bagi wanita untuk belajar mengembangkan pengetahuan dan kemampuan. Wanita ibarat bara api, sejauh apapun bara api terpencar tetap saja ia tidak akan menjadi api. Jadi jangan pernah membuat bara api itu menjadi api. Bagi kaum wanita kita manfaatkan emansipasi yang kita peroleh dari jangkauan kita salah gunakan untuk hal-hal yang kebablasan. Dan bagi kaum adam, bimbinglah wanita untuk menjadi yang selalu menjadi bagian negara timur. Bara api akan menyala dengan angin yang berhembus lembut dan akan indah jika memang seperti itu.

Oleh:
Desir intan air nirwana


Baca Selengkapnya......

Garis Hidup Wanita

Emansipasi wanita merupakan gagasan perjuangan R.A Kartini dan para pemudi tempo dulu. Sampai kini masih di dengung oleh kaum pemudi dalam memperjuangkan hak kesetaraan dengan kaum pria. Gerakan emansipasi wanita telah berjasa besar dalam menghantarkan kaum wanita Indonesia menuju mimbar kehormatan dan gerbang kehormatan. Harus dipahami, kebebasan bukan berarti kebablasan.

Emansipasi wanita/perempuan kerap disalah artikan oleh sebagian dari kita, yaitu dengan mengejar karier setinggi langit, kesetaraan gender yang kebablasan, bahkan dengan mengorbankan kodratnya sebagai perempuan. Padahal sesungguhnya apa yang diperoleh dari itu semua adalah kekalahan bagi perempuan yang paling telak.
Kodrat perempuan yang lazim kita kenal adalah bahwa setelah seorang perempuan menikah, kemudian akan mengurus keperluan suaminya, melahirkan anak dan menjaganya hingga dewasa. Bentuk kehidupan bagi sebagian perempuan seperti diatas adalah salah satu bentuk kebahagiaan yang paling alami. Namun bagi sebagian perempuan yang lain bentuk kehidupan tersebut adalah pengakuan dimana wanita tidak bebas bergerak dalam menentukan kehidupannya sebagaimana laki-laki.
Atas dasar penolakan bentuk kehidupan diatas, maka sebagian perempuan menyalurkan adanya kesetaraan gender antara laki-laki/perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Kesadaran tersebut lebih kita kenal sebagai emansipasi wanita. Maka emansipasi yang benar adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak intik memilih dan menentukan nasib sendiri.
Kesetaraan gender/emansipasi wanita yang berasal dari barat terkadang bebablasan. Banyak perempuan dinegara-negara barat enggan menikah bahkan enggan untuk melahirkan dikarenakan perempuan-perempuan dinegara barat lebih memilih mengejar karier setinggi langit dibanding dengan menikah/melahirkan anak, karena ada yang beranggapan bahwa mengandung/melahirkan anak itu akan menghambat rejeki. Akibatnya pertumbuhan penduduk akan menjadi nol bahkan minus, ini artinya mengancam kelangsungan hidup umat manusia dinegara tersebut.
Emansipasi yang disuarakan oleh R.A kartini, sebenarnya lebih menekannkan pada tuntutan agar perempuan saat itu memperoleh pendidikan yang memadai derajat perempuan yang kurang pada masyarakat Jawa dan kebebadan dalam berpendapat dan mengeluarkan pikiran. Pada manusia itu tuntutan tersebut khususnya pada masyarakat Jawa adalah kelompok besar bagi perempuan yang disuarakan oleh perempuan.
Printis kesetaraan gender di Indonesia tidak hanya Kartini, ada Tjuk Nyak Dien dari Aceh yang memimpin sebuah pasukan perang mengusir penjajah menggantikan suaminya Teuku Umar. Tjuk Nyak Dien merupakan salah satu contoh paling baik emansipasi wanita dan kesetaraan gender di Indonesia karena beliau adalah pemimpin yang tidak hanya kaum wanita tapi juga laki-laki. Adapun perintis yang lain yakni Tjuk Mutia, Laksaman Tjuk Mahalayati, Martha Kristina tinahahu, Dwi Sartika dan sebagainya.
Dalam memperingati hari Kartini 21 April, yang kita harapkan tentu semangat Kartini yang menjadi teladan bagi kaum wanita Indonesia. Namun yang harus kita ingat bahwa dalam memperjuangkan kodratnya sebagai wanita.

Oleh
Niati Purbo Suci


Baca Selengkapnya......

van-marto

Artikel Terbaru

Followers

Caht With Admin

 

Copyright © 2009 by van-marto